Sistem peringatan dini tsunami Indonesia yang diluncurkan tahun 2008 kini ditingkatkan kemampuannya dengan piranti lunak aplikasi decision support system. Sistem ini selain memberikan informasi gempa bumi berpotensi tsunami, juga ketinggian dan waktu tiba tsunami.
Sistem peringatan dini tsunami, biasa disebut Indonesia
Tsunami Early Warning System (Ina TEWS), mulai dibangun tahun 2005, pasca
tsunami besar di Aceh dan Nias, 26 Desember 2004.
Pembangunan jejaring pemantau tsunami itu melibatkan beberapa
negara, antara lain, Amerika Serikat, Jerman, dan China. Pemerintah Jerman
melalui Pusat Antariksa Jerman (DLR) dan Pusat Riset Kebumian (GFZ) menjadi
pendukung utama pemasangan jejaring.
Tahun 2010, Ina TEWS beroperasi penuh. Sistem itu terdiri dari 160
unit seismograf, 500 unit akselerograf, dan 140 unit radio and internet for
the communication of hydro-meteorogical and climate related information
yang dikelola Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kata Kepala
BMKG Sri Woro B Harijono.
Selain itu, dalam Ina TEWS juga ada 10 stasiun pasang surut dan 50
stasiun global positioning system (GPS) yang dikelola Bakosurtanal
(kini Badan Informasi Geospasial/BIG). Ada pula 23 pelampung pemantau tsunami di
beberapa lokasi rawan tsunami yang dioperasikan Badan Pengkajian dan Penerapan
Teknologi (BPPT) masuk ke jaringan ini.
Dengan jejaring alat pemantau itu, hasil pantauan gempa yang
berpotensi tsunami dapat disampaikan dalam 5 menit sejak guncangan utama terekan
seismograf. Namun, informasi yang disampaikan hanya sebatas data kegempaan dan
kemungkinan tsunami setelah gempa besar lebih dari 7 skala Richter.
Pada 23 Maret 2012, bertepatan dengan Hari Meteorologi Dunia, BMKG
meresmikan pengoperasian piranti lunak Ina TEWS generasi baru. Sistem ini
dilengkapi piranti lunak penganalisis data yang disebut decision support
system (DSS).
Piranti yang dipasang pada server di Ruang Operasional
Ina TEWS BMKG, kata Kepala Pusat Gempa dan Tsunami BMKG Suhardjono, merupakan
rancangan peneliti dari tiga lembaga yang dikoordinasikan DLR.
Adapun basis data dan analisis seismik masing-masing dikerjakan
peneliti dari Alfred Wegner Institute dan GFZ. Pengoperasian dan pemeliharaan
sistem dilakukan petugas BMKG yang dilatih di Jerman.
Pengembangan selanjutnya sesuai Keputusan Menko Kesra Nomor 21
Tahun 2006 tentang Pengembangan Sistem Peringatan Dini Tsunami di Indonesia akan
mendayagunakan peneliti dan perekayasa dari Indonesia. Sejak tahun 2010,
pembuatan buoy (pelampung) dilakukan perekayasa dari BPPT.

Keunggulan DSS
Penerapan DSS memiliki beberapa kelebihan dibandingkan generasi
peranti lunak terdahulu. Informasi bukan sebatas potensi gempa, melainkan juga
analisis ketinggian tsunami di beberapa kawasan berdampan pasca gempa besar.
Hasil analisis selain ditampilkan dalam bentuk tabel, juga data spasial, kata
Wandono, Kepala Bidang Informasi Dini Gempa Bumi dan Tsunami BMKG.
Ada tiga tingkatan status ancaman tsunami, tingkat rendah (di
bawah 0,5 m) digambarkan berwarna kuning pada peta. Bagian ini berstatus
waspada. Tingkat ancaman menengah (berpotensi dilanda tsunami 0,5 – 3 meter)
berwarna jingga, berstatus waspada. Adapun kawasan berstatus awas diwarnai merah
(terancam tsunami lebih dari 3 meter). “Peta daerah ancaman tsunami dihasilkan
DSS dalam 5 – 10 menit pascagempa,” katanya.
DSS juga melaporkan waktu sampainya tsunami di pantai terdampak,
demikian Tiar Prasetya, Kepala Sub Bidang Peringatan Dini Tsunami BMKG. Pada
tahap selanjutnya dikeluarkan hasil verifikasi data hasil pantauan pelampung
dari BPPT dan pasang air laut dari BIG.
Informasi hasil analisis diteruskan ke ASEAN Earthquake
Information Center di menit ke-10 dan region tsunami center untuk
kawasan Samudra Hindia 15 menit kemudian.
Penerapan sistem otomatis ini, menurut Suhardjono, dapat
meminimalkan kesalahan interpretasi operator. Dengan DSS, campur tangan operator
dalam menentukan peringatan dini tsunami dapat dikurangi.
Untuk hasil analisis yang akurat, kata Wandono, DSS ditunjang
basis data sejarah tsunami tiap wilayah. Pada basis data itu, ada lebih dari
3.000 skenario dihasilkan. Simulasi kemudian menghitung berapa kemungkinan
disalokasi, berupa subduksi (bergerak vertikal) dan bergeser (horizontal).
Pada gempa Rabu (11/4), simulasi menunjukkan, Banda Aceh hingga
Meulaboh berwarna merah (berpotensi terkena tsunami di atas 3 meter), semakin ke
tenggara semakin rendah.
Menurut Wandono, untuk meningkatkan akurasi prediksi tsunami
diperlukan lebih banyak sensor. Saat ini di Indonesia hanya ada 160 sensor.
Bandingkan dengan Jepang yang wilayahnya lebih kecil memiliki 2.000 sensor
seismograf.